Aku, dilahirkan di sebuah dusun kecil terpencil di wilayah Yogyakarta, orang tuaku bukanlan orang yang berada. kehidupanku penuh dengan perjuangan dan keprihatinan. aku 5 bersaudara. Mungkin karena kondisi keluargaku yang miskin, Alloh menghendaki mengurangi beban kedua orang tuaku dengan mengurangi jumlah beban dalam keluargaku, adiku Nurahman dipanggil-Nya dalam usia masih sangat muda, 1 th. bahkan akupun tak ingat kapan peristiwa yang mengguncang batin kedua orang tuaku itu terjadi. Penyakit deifteri portusis menjadi jembatan adiku menuju ke pangkuan Nya. Namun beberapa tahun kemudian Alloh telah menggantinya dengan memberiku 3 orang adik.
karena kondisi ekonomi kedua orang tuaku yang belum semapan sekarang, memakasa mereka harus bekerja dan bekonsentrasi pada bagaiamana suapaya ke empat anak mereka bisa makan, berpakain dan sekolah seperti teman-teman sebayanya. Setiap hari mereka bekerja keras membanting tulang untuk mencukupi kebutuhan kami. Karena kesibukan mereka itulah dengan sangat terpaksa mereka menitipkan kami pada simbah buyut kami yang sangat mengasihi dan menyayangi kami. Simbah Trisno Utomo kakung putri, merekalah kakek nenek buyut kami tercinta yang sangat memperhatikan kami ber empat, semoga amal kebaikan mereka diterima disisi Alloh. Amin
Awal kehidupan kami serba pas-pasan tapi alhamdulillah kami masih tetap bisa makan dan sekolah. Bahkan, Kami berempat bisa mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi. Satu hal yang mungkin tak pernah terpikirkan oleh kedua orang tuaku. Aku salut pada kegigihan kedua orang tuaku dalam memperjuangkan masa depan kami. Simbok (ibu) ku adalah sosok wanita yang gigih, pekerja keras dan nrimo ing pandum. Dia tidak pernah punya kepinginan untuk menyenag-nyanangkan diri sendiri, anak-anak adalah hal utama yang harus diperjuangkan. Dia tidak pernah tergoda untuk membelanjakan uangnya untuk hal-hal yang sifatnya hanya menyenagkan diri senditi semisal pakaian dan perhiasan seperti yang dilakukan oleh kebanyakan wanita. Dia membeli emas segram demi segram tetapi tidak untuk dipakai melainkan untuk disimpan sebagai investasi masa depan. Bapak ku juga seorang laki-laki yang sangat bijaksana belalulah yang mengajarkan pada kami bagaimana mensikapi hidup dengan bijaksana, bagaimana mendekat pada Alloh, sehingga sesulit apapun ppsisi kami, kami tetap bersandar pada Alloh.
Adikku yang pertama setelah Nurrahaman adalah Nur Andri Yanto, dia sekarang sudah menikah, istrinya seorang dokter di wilayah Lampung dia sendiri seorang pengusaha kebon kelapa sawit, terakhir aku dengar dia membeli 10 ha kebon untuk ditanami sawit. Dia memang tidak suka bekerja di kantor dia lebih suka bekerja di lapangan, awal karrirnya adalah sebagai officer di pabri nata di Riau tapi karena tidak kerasan akhirnya dia pulang dan memilih ikut jejak teman-temanya bekerja di sebuah bisnis kontraktor, akhirnya dia sukses dan sekarang mencoba untuk membuat jaringan bisnisnya sendiri. Good Luck.
Jumat, 11 September 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar